BIBIT KELAPA KOPYOR

| March 3, 2018 | 0 Comments

Temukan penjelasan tentang Kelapa Kopyor dalam artikel berikut, baik Benih/Bibit Kelapa Kopyor Kualitas terbaik, buah Kopyor 99%, cara pemesanan bibit Kelapa Kopyor, dan yang tidak kalah pentingnya adalah harga Bibit Kelapa Kopyor Murah. Info Harga Bibit Kelapa Kopyor Murah, 99% buahnya Kopyor dan hasil dari Kultur Jaringan bisa langsung Klik di sini

 

Kenapa dengan Kelapa Kopyor Perbanyakan Tanaman dengan Kultur Jaringan (Kultur Embrio)? 

Berikut Penjelasan dari peneliti Kelapa Kopyor oleh Ir. Sumaryono, M.Sc. dan Imron Riyadi, M.Si

KULTUR EMBRIO UNTUK PERBANYAKAN TANAMAN KELAPA KOPYOR

Kelapa kopyor (Cocos nucifera kultivar kopyor) merupakan jenis kelapa yang menghasilkan buah abnormal yaitu daging buah (endosperma) lepas dari batoknya dan bertekstur remah. Hal ini terjadi karena tanaman kelapa tersebut tidak memiliki gen α-galaktosidase yang bertanggung jawab terhadap mengerasnya endosperma untuk menempel pada batok kelapa [1]. Di alam, tanaman kelapa kopyor tersebar dalam populasi yang sangat rendah dan menghasilkan hanya satu atau dua butir buah kopyor per tandan. Kelapa kopyor alami banyak dijumpai di daerah Lampung, Tangerang, Pati, Klaten, dan Sumenep [2].

Karena kelangkaan dan rasa khas buah kelapa kopyor maka harga buah kelapa kopyor lebih dari sepuluh kali lipat dari harga kelapa biasa. Dengan semakin populernya buah kelapa kopyor di masyarakat, maka semakin beragam aneka makanan atau minuman yang menggunakan bahan baku daging buah kelapa kopyor. Daging buah kelapa kopyor bertekstur remah, lepas-lepas yang mempunyai rasa manis, lezat, dan khas berbeda dibandingkan dengan daging buah kelapa biasa. Daging buah kelapa kopyor biasanya dibuat sebagai bahan minuman, campuran es krim, dan aneka kue.

Buah kelapa kopyor tidak dapat ditanam sehubungan dengan rusaknya endosperma. Embrio tidak bisa berkembang menjadi bibit karena tidak memperoleh suplai makanan dari endosperma yang rusak. Oleh karena itu, perbanyakan kelapa kopyor secara konvensional dilakukan dengan menggunakan buah normal yang dihasilkan dari tanaman kelapa yang telah dikenal menghasilkan buah kopyor. Misalnya dari satu tandan diperoleh delapan buah kelapa, dua di antaranya kopyor, sedangkan enam lainnya normal. Enam buah kelapa normal inilah yang disemaikan untuk menghasilkan bibit kelapa kopyor. Namun, mengingat gen kopyor termasuk gen resesif maka hanya sekitar 25% dari bibit tersebut yang mempunyai sifat kopyor.

“TAHUKAH ANDA BAHWA PEMINAT KULINER KELAPA KOPYOR SANGAT BANYAK…. UNTUK BIBIT BENIH SIAP TANAM, HARGA BIBIT KELAPA KOPYOR MURAH DAN BERKUALITAS TINGGI”  KLIK DI SINI

Meningkatnya permintaan terhadap daging buah kelapa kopyor di masyarakat luas mendorong usaha peningkatan produksi kelapa kopyor melalui perluasan areal tanaman. Penyediaan bibit sulit dipenuhi melalui perbanyakan konvensional karena rendahnya persentase bibit yang bersifat kopyor. Untuk itu, teknologi in vitro menawarkan alternatif guna mengatasi masalah perbanyakan konvensional tersebut. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia telah berhasil mengembangkan kultur in vitro kelapa kopyor melalui teknik kultur penyelamatan embrio (embryo rescue) [3]. Dengan teknologi ini tanaman kelapa yang dihasilkan akan menghasilkan buah yang hampir semuanya kopyor.

Kultur embrio kelapa kopyor pada prinsipnya adalah menyediakan bahan makanan buatan menggantikan fungsi endosperma dalam mendukung embrio untuk tumbuh dan berkembang. Embrio zigotik diambil dari buah kelapa kopyor berumur 10-11 bulan setelah antesis dan dikultur pada media agar berisi hara mineral, vitamin, bahan organik, zat pengatur tumbuh dan sukrosa. Embrio akan membentuk tunas (shoot) berwarna putih kehijauan dan akar berwarna kecoklatan. Mengingat ukuran planlet kelapa kopyor yang relatif tinggi maka planlet selanjutnya dipindah ke tabung kultur yang besar (diameter 4 cm dan tinggi 25 cm). Setelah 6-10 bulan, sebagian besar planlet sudah memiliki 2-4 daun dan perakaran yang baik dengan tinggi lebih dari 20 cm. Pada kondisi ini, planlet siap untuk diaklimatisasi ke lingkungan luar. Lama periode kultur in vitro antara 6-12 bulan.

Aklimatisasi adalah tahap peralihan dari kondisi in vitro di lab ke kondisi ex vitro di lingkungan luar yang kondisi lingkungannya (suhu, kelembaban udara, dan intensitas cahaya) sangat jauh berbeda, lebih ekstrem dan fluktuatif. Planlet ditanam di pot kecil berisi media berupa campuran tanah, pupuk kandang dan pasir, kemudian diletakkan di dalam sungkup plastik transparan tertutup rapat di pesemaian di bawah tajuk pepohonan atau plastik net (waring). Setelah tiga bulan, sungkup mulai dibuka secara bertahap. Bibit yang mulai berkembang kemudian dipindah ke polibeg ukuran besar. Polibeg tetap diletakkan di dalam sungkup selama beberapa minggu sebelum dipindah ke pesemaian dengan naungan kemudian ke lingkungan luar di bawah sinar matahari langsung selama 1-2 bulan. Pada tahap ini bibit siap untuk ditanam di lapang. Lama periode aklimatisasi antara 6-8 bulan, sehingga jangka waktu mulai dari kultur embrio sampai bibit siap tanam sekitar 1,5 tahun. Sampai saat ini persentase keberhasilan kultur embrio kelapa kopyor dari jumlah embrio zigotik yang dikultur menjadi bibit yang siap tanam sekitar 50%.

 

Kelapa kopyor  kultur in vitro (Kultur Jaringan / Kultur Embrio) yang di kembangkan ada 2 tipe: tipe Genjah dan Dalam.

Perbedaan:

  1. Genjah:
    • Umur berbunga berbuah 3 tahun (berdasar uji-lapang), sehingga BEP lebih cepat.
    • Pertumbuhan meninggi lambat (slow growth) sehingga terlihat pendek (dwarf) atau cebol. Hal ini lebih efisien dalam biaya perawatan terutama pemanenan.
    • Kelebihan khusus: bersifat autogamy (menyerbuk sendiri) dan cleistogany (begitu manggar/tandan bunga pecah, kondisi putik sudah terbuahi oleh polen sendiri). Hal ini yang menyebabkan terjaganya sifat kemurnian genetik tidak terpengaruh gen tanaman kelapa lain melalui cross pollination.

– Proses transaksi Klik di sini.

  1. Dalam:
  • Umur berbunga berbuah 5 tahun (berdasar uji-lapang) atau 4 tahun (berdasar uji-lapang di Loajanan Samarinda KalTim),
  • Pertumbuhan meninggi normal.
  • Sifat penyerbukan didominasi cross pollination sehingga lebih baik (produktif) dalam bentuk populasi. Namun kemungjkinan terjadinya cross pollination lebih besar bila dekat dengan kelapa biasa sehingga mengurangi persentase buah kopyor tergantung sebarapa berat densitas polen yang menyerbuk ke putik induk tanaman kopyor. Namun tidak mungkin di bawah 50%. Baiknya jauh dari kelapa selain kelapa Kopyor.

– Proses transaksi Klik di sini.

 

 

Pelatihan Teknik Perbanyakan Tanaman Melalui Kultur Jaringan

 05 June 2015 02:58 | Written by Rizka Tamania Saptari, S.Si 

 

Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) dengan pengalaman panjang dalam riset dan pengembangan bahan tanam unggul perkebunan, tanaman hias dan hortikultura melalui kultur jaringan, mengadakan Pelatihan Teknik Perbanyakan Tanaman Melalui Kultur Jaringan pada tanggal 18-22 Mei 2015. Menyadari bahwa kebutuhan bibit unggul tanaman perkebunan dan tanaman hias di Indonesia mencapai ratusan juta bibit per tahun, peran kultur jaringan sangat diperlukan untuk menyediakan bibit unggul klonal skala besar secara cepat. Di Indonesia, saat ini puluhan juta benih unggul tanaman tersebut telah dihasilkan melalui kultur jaringan. Selain untuk tujuan perbanyakan tanaman, kultur jaringan juga berperan dalam program pemuliaan tanaman melalui transformasi genetik dan pemuliaan tanaman in vitro, penyediaan bibit bebas-penyakit, produksi senyawa metabolit sekunder bernilai tinggi, dan untuk konservasi plasma nutfah tumbuhan secara in vitro. Melalui pelatihan ini, PPBBI memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta dalam melakukan teknik kultur jaringan pada tanaman perkebunan dan tanaman hias.

Pelatihan dilaksanakan selama lima hari yang terdiri dari pembekalan materi oleh narasumber yang merupakan peneliti-peneliti ahli dan berpengalaman PPBBI di bidang kultur jaringan dan biologi molekuler terkait kultur jaringan, serta praktikum kultur jaringan di laboratorium biak sel dan mikropropagasi tanaman PPBBI. Pelatihan melibatkan peserta dari Dinas-Dinas Perkebunan beberapa Provinsi maupun perusahaan swasta. Materi pelatihan yang diberikan meliputi dasar-dasar teknik kultur jaringan dan kultur jaringan tanaman perkebunan oleh Ir. Sumaryono, M.Sc, teknik somatic embryogenesis (SE) dan in vitro microcutting tanaman karet oleh Dr. Nurhaimi Haris, media tanam, temporary immersion system (TIS), dan aklimatisasi oleh Imron Riyadi, M.Si, biologi molekuler dan kultur jaringan dalam perbaikan tanaman oleh Dr. Asmini Budiani, teknik organogenesis untuk perbanyakan tanaman hias oleh Masna Maya Sinta, S.Si, dan teknik kultur jaringan untuk tanaman bebas hama dan penyakit oleh Dr. Hayati Minarsih.

“SEGERA PESAN BIBIT KELAPA KOPYOR 99 % KOPYOR” KLIK DI SINI

Selain dibekali oleh materi, peserta diajak langsung untuk melihat laboratorium kultur jaringan serta alat dan fasilitas yang ada di laboratorium. Selanjutnya peserta melakukan praktikum pembuatan larutan stok hara makro, hara mikro, dan hormon dan pembuatan medium tanam kultur jaringan. Setelah pembuatan medium tanam, peserta melakukan pengambilan eksplan di lapang yang akan diperbanyak melalui kultur jaringan yang terdiri dari bunga kakao, daun kopi, batang teh, dan embrio kelapa kopyor. Kemudian dilakukan praktikum sterilisasi dan penanaman eksplan di laboratorium, subkultur, dan pengamatan. Tahap pada teknik kultur jaringan yang dilatih tidak hanya sampai pada tahap laboratorium. Peserta juga melakukan praktikum aklimatisasi yaitu mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan ke lapang. Untuk teknik kultur jaringan menghasilkan tanaman bebas hama dan penyakit, juga dilakukan peragaan teknik pengambilan eksplan yang dinamakan teknik kultur meristem tip. Peserta sangat antusias dalam praktikum dan diskusi yang sangat berguna untuk saling berbagi pengalaman yang bermanfaat untuk kemajuan riset dan pengembangan kultur jaringan untuk perbanyakan tanaman perkebunan, tanaman hias dan tanaman potensial lainnya di Indonesia.

Setelah diskusi dan penutupan pada hari Jum’at tanggal 22 Mei 2015, pelatihan diakhiri dengan acara kunjungan ke Museum Kepresidenan di lingkungan Istana Presiden Bogor yang merupakan tempat kunjungan menarik di kota Bogor. Bagi rekan-rekan yang berminat mengikuti pelatihan Teknik Perbanyakan Tanaman Melalui Kultur Jaringan yang diselenggarakan oleh PPBBI ini, akan diselenggarakan pelatihan gelombang II tahun 2015 pada tanggal 9-13 November 2015. Kami tunggu partisipasi dari rekan-rekan selanjutnya.

Penulis : Rizka Tamania Saptari S.Si

Incoming benih-tanaman.com:

  • eksplan dari akar
Share benih-tanaman.com
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tags: ,

Category: Benih Perkebunan

About the Author ()

Leave a Reply