Kiat Sukses Produksi Benih Unggul Padi Sendiri

| April 19, 2015 | 0 Comments

benih padi benih tanaman

Kelangkaan benih unggul seringkali dirasakan ditingkat petani, padahal proses produksi bisa dilakukan sendiri dihamparan sawahnya namun karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam hal produksi benih sehingga kelangkaan benih masih terus dirasakan.

Benih unggul merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya tanaman dan perannya tidak dapat di gantikan oleh faktor lain, karena benih sebagai bahan tanaman dan sebagai pembawa potensi genetik terutama untuk varietas-varietas unggul. Keunggulan varietas dapat dinikmati oleh konsumen bila benih tanaman yang ditanam bermutu.

Dalam pertanian modern, benih/bibit berperan sebagai paket keunggulan teknologi bagi petani dan konsumen lainnya. Paket keunggulan teknologi tersebut harus dapat terus berkembang dan dapat tersedia secara tepat (hidayat, 2006). Keunggulan varietas dan  mutu benih merupakan justifikasi utama untuk membangun sistem produksi benih bersertifikat (Tripp, 1995).

Penyediaan benih unggul memegang peranan yang menonjol diantara teknologi yang dihasilkan melalui penelitian, baik dalam kontribusinya terhadap peningkatan hasil persatuan luas maupun sebagai salah satu komponen utama dalam pengendalian hama dan penyakit. Selain itu, varietas unggul dinilai mudah diadopsi petani dengan tambahan biaya yang relatif murah dan memberikan keuntungan langsung kepada petani.

Salah satu pendekatan sistem produksi benih unggul yang dapat dilakukan di Sulbar saat ini adalah pengembangan penangkaran benih berbasis masyarakat, di mana masyarakat tani secara berkelompok (poktan) didorong memproduksi sendiri kebutuhan benihnya pada hamparan kelompoknya, sehingga akan lebih menghemat waktu dan biaya, dan untuk selanjutnya dapat menjadi unit produksi benih sumber yang berorientasi agribisnis.

Upaya yang diperlukan untuk mendukung hal tersebut antara lain peningkatan kemampuan para penangkar serta penguatan kelembagaan mereka melalui penyuluhan dan pendampingan. Varietas-varietas berdaya hasil tinggi yang telah diproduksi Badan Litbang Pertanian perlu ditawarkan kepada para petani untuk memperkaya pilihan mereka, baik yang sudah berkembang, maupun varietas baru yang berpeluang sebagai produk agribisnis kedepan yang dapat mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan para petani dan masyarakat pada umumnya.

Kiat-kiat atau langkah-langkah yang perlu diperhatikan untuk memproduksi benih unggul mulai dari pemilihan lokasi, pesemaian, penanaman, pemupukan, pengairan, hingga panen dan pengolahan benih.

Pemilihan Lokasi

Hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi diantaranya adalah; kemudahan akses ke lokasi produksi (kondisi jalan, transportasi), kondisi fisik lokasi dan isolasi.

Lahan untuk produksi benih sebaiknya lahan bera atau bekas pertanaman varietas yang sama atau varietas lain yang karakteristik pertumbuhannya berbeda nyata. Kondisi lahan subur dengan air irigasi dan saluran drainase yang baik, bebas dari sisa-sisa tanaman/varietas lain.

Isolasi jarak minimal antara dua varietas yang berbeda adalah tiga meter. Apabila tidak memungkinkan, untuk memperoleh waktu pembungaan yang berbeda bagi pertanaman produksi benih dari varietas yang umurnya relatif sama perlu dilakukan isolasi waktu tanam sekitar empat pekan.

Pesemaian

Luas lahan untuk persemaian yang ideal adalah empat persen dari luas areal pertanaman atau sekitar 400 meter kubik (m²) per hektar. Buat bedengan dengan tinggi 5 sampai 10 centimeter (cm), lebar 110 cm, dan panjangnya disesuaikan dengan ukuran petak dan kebutuhan.

Lahan terbaik untuk produksi benih termasuk untuk persemaiannya adalah lahan bera pada musim sebelumnya atau lahan yang ditanami dengan varietas yang sama pada musim sebelumnya. Dalam praktik, mungkin sulit diperoleh areal untuk persemaian dengan persyaratan seperti tersebut di atas.

Apabila demikian, dapat digunakan areal bekas pertanaman padi dengan melakukan pengolahan tanah sambil sanitasi. Pembuatan persemaian dilakukan sebagai berikut; (a) Tanah diolah, dicangkul atau dibajak, dibiarkan dalam kondisi macak-macak selama minimal dua hari, kemudian dibiarkan mengering sampai tujuh hari, agar gabah yang ada dalam tanah tumbuh. Kemuadian diolah yang kedua sambil membersihkan lahan dari tanaman padi yang tumbuh liar dan gulma; (b) Pupuk persemaian dengan urea, TSP, dan KCl masing-masing sebanyak 15 gram (g)/m². Sebelum disebar, benih direndam selama 24 jam. Kemudian diperam selama 24 jam; (c) Tabur benih yang telah mulai berkecambah dengan kerapatan 25 hingga 50 g/m2 atau 0.5 sampai 1 kg benih per 20 m² lahan; (d) Kebutuhan benih untuk satu hektar (ha) areal pertanaman adalah 10 sampai 20 kg.

Penanaman

Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 15 hingga 21 hari, dengan satu bibit per lubang pada kedalaman satu atau dua sentimeter. Untuk mempermudah dalam pemeliharan dan untuk meningkatkan produksi gunakan jarak tanam dengan sistem jajar legowo 2:1 (40 x (20×10) cm, jajar legowo 4:1 (40x (20x20x20x10) cm. Penyulaman dilakukan pada tujuh hari setelah tanam dengan bibit dari varietas dan umur yang sama. Setelah ditanam, air irigasi dibiarkan macak-macak (1-3 cm) selama 7 hingga 10 hari.

Pemupukan

Kesuburan tanah beragam antar lokasi karena perbedaan sifat fisik dan kimianya. Dengan demikian kemampuan tanah untuk menyediakan hara bagi tanaman juga berbeda-beda. Pemupukan dimaksudkan untuk menambah penyediaan hara sehingga mencukupi kebutuhan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik.

Agar efisien, takaran pupuk hendaknya disesuaikan dengan kondisi lahan setempat. Untuk pupuk SP36 dan KCI, takarannya disesuaikan dengan ketersediaan P dan K dalam tanah yang berdasarkan hasil uji tanah sawah dengan menggunakan Perangat Uji Tanah Sawah (PUTS). Sedangkan untuk pupuk urea, takaran dan waktu pemberiannya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dengan menggunakan teknologi Bagan Warna Daun (BWD).

Pemupukan dengan menggunakan BWD dilakukan sebagai berikut. Apabila pengujian seperti di atas tidak memungkinkan, maka dapat digunakan anjuran umum pemupukan dengan 120 sampai 240 kg urea, 100 sampai 120 kg SP36, dan 100 sampai 150 kg KCl per ha, dengan waktu pemberian pupuk dasar (saat tanam) 33 persen urea (40-80 kg/ha) tambah 100 persen SP36 (100-120 kg/ha). Kemudian pemberian pupuk susulan I (4 MST) 33 persen urea (40-80 kg/ha) tambah 50 persen KCl (50-75 kg/ha). Selanjutnya pemberian pupuk susulan II (7 MST) 33 persen urea ( 40-80 kg/ha) tambah 50 persen KCl (50-75 kg/ha).  Pada musim hujan, takaran pupuk dianjurkan lebih rendah daripada musim kemarau.

Pengairan

Sejak saat tanam hingga seminggu kemudian, air perlu tersedia secara cukup untuk mendukung pertumbuhan akar tanaman. Namun ketinggian air cukup dua hingga tiga sentimeter, untuk mendorong pertumbuhan anakan baru. Jika permukaan air terlalu tinggi, pertumbuhan anakan tertekan. Tanaman padi umumnya memerlukan aerasi yang baik.

Oleh karena itu, pengairan berselang atau intermitten sangat dianjurkan dengan urutan sebagai berikut; (a) Selesai tanam, ketinggian air sekira dua sentimeter selama tiga hari; (b) Setelah periode tersebut, air pada petak pertanaman dibuang sampai kondisi macak-macak dan dipertahankan  selama 10 hari; (c) Dari fase pembentukan anakan sampai inisiasi primordia bunga, lahan pertanaman digenangi air setinggi tiga sentimeter; (d) Menjelang pelaksanaan pemupukan susulan pertama, dilakukan lagi drainase dan penyiangan; (e) Pada fase primordia bunga sampai dengan fase bunting, lahan digenangi setinggi lima sentimeter, untuk menekan pertumbuhan anakan baru; (f) Selama masa bunting sampai fase berbunga, lahan pertanaman secara periodik diairi dan dikeringkan secara bergantian (selang-seling). Petakan diairi setinggi lima sentimeter kemudian dibiarkan sampai kondisi sawah kering  selama dua hari dan kemudian  diari kembali sampai setinggi lima sentimeter dan seterusnya.

Kemudian, (g) Pada fase pengisian biji, ketinggian air dipertahankan sekitar tiga sentimeter; (h) Setelah fase pengisian biji, lahan pertanaman produksi benih secara periodik diari dan dikeringkan secara bergantian (selang-seling); dan (i) Seminggu menjelang panen, lahan mulai dikeringkan agar proses pematangan biji relatif lebih cepat dan lahan produksi benih tidak becek sehingga memudahkan saat panen.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan secara intensif agar tanaman tidak terganggu oleh gulma. Penyiangan dilakukan paling sedikit dua atau tiga kali tergantung pada keadaan gulma, menggunakan landak atau gasrok. Penyiangan dapat dilakukan pada saat pemupukan susulan pertama atau kedua. Hak ini dimaksudkan agar pupuk yang diberikan hanya diserap oleh tanaman padi, karena gulma sudah dikendalikan.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit merupakan faktor penting yang menyebabkan suatu varietas tidak mampu menghasilkan seperti yang diharapkan. Pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara terpadu, dan hindari pengembangan di daerah endemis hama dan penyakit terutama daerah endemis wereng coklat dan penyakit tungro serta perhatikan serangan tikus sejak dini dan monitor penerbangan ngengat penggerek batang.

Rouging/Seleksi Tanaman

Salah satu syarat dari benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian genetik yang tinggi, oleh karena itu roguing perlu dilakukan dengan benar dan dimulai mulai fase vegetatif sampai akhir pertanaman. Rouging dilakukan untuk membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang diproduksi benihnya.

Untuk tujuan tersebut, pertanaman petak pembanding (pertanaman check plot) dengan menggunakan benih autentik sangat disarankan. Pertanaman ini digunakan sebagai referensi/acuan di dalam melakukan rouging dengan cara memperhatikan karakteristik tanaman dalam berbagai fase pertumbuhan.

Rouging atau seleksi tanaman atau rumpun yang menyimpang dilakukan pada beberapa tahap yaitu; (a) Stadia Vegetatif Awal (35-45 HST); (b) Stadia Vegetatif akhir/anakan maksimum (50-60 HST); (c) Stadia Generatif awal/berbunga (85-90 HST); dan (d) Stadia generative akhir/masak (100-115 HST).

Panen dan Pengolahan Benih

Saat panen yang tepat adalah pada waktu biji telah masak fisiologis, atau apabila sekitar 90 hingga 95 persen malai telah menguning. Benih padi ketika baru dipanen masih tercampur dengan kotoran fisik dan benih jelek. Oleh karena itu, bila pertanaman benih telah lulus dari pemeriksaan lapangan, masalah mutu benih padi setelah panen biasanya berasosiasi dengan mutu fisiologis, mutu fisik dan kesehatan benih.

Salah satu variabel dari mutu fisiologis benih yang mulai menarik perhatian petani adalah status vigor benih. Vigor benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh cepat, serempak dan berkembang menjadi tanaman normal dalam kisaran kondisi lapang yang lebih luas. Untuk menjamin ini, maka tak pelak lagi cara panen yang baik, perontokan, pembersihan, dan cara pengeringan gabah untuk benih akan menentukan mutu benih.

Faktor yang paling utama adalah pengeringan benih, benih harus dikeringkan sampai kadar air mencapai 10-12 persen. Setelah menjadi benih dan siap simpan, benih harus dikemas secara baik dan disimpan ditempat dengan kondisi khusus untuk penyimpanan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses panen dan pengolahan benih adalah sebagai berikut:

Persiapan Panen

Lahan pertanaman untuk produksi benih dapat dipanen apabila sudah dinyatakan lulus sertifikasi lapangan oleh BPSB.  Sebelum panen dilakukan,  semua  malai dari kegiatan roguing harus dikeluarkan dari areal yang akan dipanen. Hal ini untuk menghindari tercampurnya calon benih dengan malai sisa roguing.  Selain itu, perlu disiapkan peralatan yang akan digunakan panen (sabit, karung, terpal, alat perontok (threser), karung dan  tempat/alat pengering) serta alat-alat yang akan digunakan untuk panen dibersihkan.

Proses Panen

Dua baris tanaman yang paling pinggir sebaiknya dipanen terpisah dan tidak digunakan sebagai calon benih. Panen dapat dilakukan dengan potong tengah jerami padi kemudian dirontok dengan threser atau potong bawah lalu digebot. Calon benih kemudian dimasukan ke dalam karung dan diberi label yang berisi : nama varietas, tanggal panen, asal pertanaman dan berat calon benih.; lalu diangkut ke ruang pengolahan benih.

Pengeringan Benih

Penurunan kadar air perlu harus segera dilakukan karena pada umumnya calon benih masih mempunyai kadar air panen yang tinggi. Pada tingkat kadar air yang tinggi, calon benih bisa diangin-anginkan terlebih dahulu sebelum dikeringkan. Pengeringan benih dapat dilakukan dengan cara penjemuran dan pastikan lantai jemur  bersih dan beri jarak yang cukup antar benih dari varietas yang berbeda. Gunakan lamporan/alas di bagian bawah untuk mencegah suhu penjemuran yang terlalu tinggi di bagian bawah hamparan. Lakukan pembalikan benih secara berkala dan hati-hati. Lakukan pengukuran suhu pada hamparan benih yang dijemur dan kadar air benih setiap dua sampai tiga jam sekali serta catat data suhu hamparan dan kadar air benih tersebut. Pengeringan dilakukan hingga mencapai kadar air yang memenuhi standar mutu benih bersertifikat (13 persen atau lebih rendah)

Pengolahan Benih

Pengolahan benih pada umumnya meliputi pembersihan benih, pemilahan (grading) dan perlakuan benih (jika diperlukan). Tujuan pembersihan ini selain memisahkan benih dari kotoran (tanah, jerami, maupun daun padi yang terikut) juga untuk membuang benih hampa. Pembersihan benih dalam skala kevil dapat dilakukan secadapat dilakukan secara manual dengan menggunakan nyiru (ditapi). Sedangkan pada skala produksi yang lebih besar, penggunaan mesin pembersih benih seperti air screen cleaner atau aspirator akan meningkatkan efisiensi pengolahan.

Pengemasan Benih

Pengemasan benih selain bertujuan untuk mempermudahkan di dalam penyaluran/transportasi benih, juga untuk melindungi benih selama penyimpanan terutama dalam mempertahankan mutu benih dan menghindari serangan insek. Oleh karena itu, efektifitas atau tidaknya kemasan sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam mempertahankan kadar air, viabilitas benih dan serangan insek.

Pengemasan sementara selama pengolahan benih berlangsung atau setelah selesai pengolahan sampai menunggu hasil uji lab keluar dan label selesai dicetak, benih dapat dikemas dalam karung plastik yang dilapis dengan kantong plastik di bagian dalamnya. Sedangkan untuk tujuan komersial/pemasaran benih, benih sebaiknya dikemas dengan menggunakan kantong plastik tebal 0.08 mm atau lebih dan di-sealed/ dikelim rapat.  Pengemasan dilakukan setelah hasil uji lab terhadap contoh benih dinyatakan lulus oleh BPSB dan label selesai dicetak. Label benih dimasukan ke dalam kemasan sebelum di-sealed. Pengemasan dan pemasangan label benih harus dilakukan sedemikian rupa, agar mampu menghindari adanya tindak pemalsuan.

Penyimpanan Benih

Kondisi penyimpanan yang baik adalah kondisi penyimpanan yang mampu  mempertahankan mutu benih seperti saat sebelum simpan sepanjang mungkin selama periode simpan.  Daya simpan benih tanaman dipengaruhi oleh sifat genetik benih, mutu benih awal simpan dan  kondisi ruang simpan. Oleh karena itu, hanya benih yang bermutu tinggi yang layak untuk disimpan. Sedangkan  kondisi ruang yang secara nyata berpengaruh terhadap daya simpan benih adalah suhu dan kelembaban ruang simpan.

sumber : sulbar.litbang.pertanian.go.id

Incoming benih-tanaman.com:

  • padi
  • gambar padi
  • content
  • Pupuk untuk padi dengan luas sawah 400meter kubik
  • penangkaran benih padi berbasis masyarakat
  • gambar pohon padi
  • poto padi
  • foto padi
  • gambarr padi
  • ukuran pupuk sawah 400 meter
Share benih-tanaman.com
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Category: Uncategorized

About the Author ()

Leave a Reply